by ien bunda elang
i miss u, Iskandar Angels... yupp..saya kangen ita, ama, dan yuni....
Setiap hari, tak pernah saya lewatkan untuk membaca Lampung post online, sungguh saya masih merasa bagian dari koran itu.
Kangen ini terkadang amat sangat membelenggu, hingga saya serasa ingin terbang ke lampung. Bahkan, setiap anak saya melaksanakan praktek atau bekerja di lampung, pasti akan saya titipin sebuah pesan. Belikan saya Harian LAmpung POst.
Guys, kangen nggak kalian dengan saya?
Dedi Triadi, fotografer yang selalu setia menemani saya kala susah dan senang. Mngkin saat ini dia tidak lagi berprofesi jadi fotografer. Ama yang cute..salut bu...dah jadi korlipnya Siger TV, Ita cintaku..yang sudah nemu bahagia dengan Bang QQ. Yuni mbakyuku yang nJawani...kapan neh pulang ke JAwa...
Mngkin tak akan lagi saya temukan perssaudaraan seperti bersama kalian, makan di Dawiels bareng (masih ada nggak?) atau sekedar kongkow di Arto sambil nungguin film mulai. Bahkan perasaan hunting bareng masih membayangi benak saya.
Belum lagi kalau pas saya sedang rindu Jawa..kalian begitu hangat memeluk saya. Hmmm..indahnya persaudaraan itu. Di kantor, saya juga merindukan Lulu kuya bathok...korektor yang lucu dan gondrong. Yang dengan setia menemani saya kala saya sering dimarahin Om item. Thanks bro... Juga Bang Ucok dan mbak Cici (bu Hajah...) aduh...kuangennnnnnnnnn
Ada Om ganteng dan om item...Big Bos BEW yang memberi inspirasi saya untuk selalu belajar dan belajar menulis, berguru dan rajin membaca, walau itu hanya sekedar brosur obat. Bos, you're the best!
Saya tidak akan pernah bisa menulis tanpa inspirasi mereka, Look..Bang Ucok yang dengan logat Medan selalu memberi suntikan semangat. Sehingga saya tak gentar untuk hunting dan memburu nara sumber, walau lebih sering terkena semprot satpam atau diusir lantaran dikira mau nyari perkara. Sungguh...indah sekali semua itu...
Di kriminal, ada mas Aris dan Bang Jun..hebat...temen-temen buser saya, yang ngajarin tentang dunia kriminal (tapi malah lu orang yang mirip kriminalnya, hehehehe...). Gimana dulu kapolda marah-marah lantaran saya menulis apa adanya. Dan kalian berdua nyemprot saya...punten atuh kang....
Ini isi hati saya,...rindu saya yang terkadang membuat saya seperti gila. Namun saya yakin, kalian di lampung fine-fine aja. Bahkan sudah banyak yang melupakan saya. It's OK...asal saya tak melupakan kalian..itu dah cukup buat saya..
Last but not least...i miss u, all...***
Sabtu, 31 Januari 2009
Jagoan

by ien bunda elang
Look at that face...saya ingin selalu memeluk dan menciumnya. Setiap detik, setiap saat, saya tak bisa jauh-jauh darinya.
Saat saya harus bekerja dan meninggalkannya, saya seperti memiliki ruang hampa di hati, kosong. Apalagi ketika saya harus lembur dan menginap karena ada tugas diklat atau penataran.
Terkadang, dia membuat saya merasa istimewa. Saat dia genggam tangan saya dan berusaha mencari perlindungan. Saya sering dibuatnya menangis dan sport jantung. Apalagi ketika tiba-tiba dia terkena demam tinggi.
Tahu nggak mas, dulu..ketika kamu akan lahir di dunia ini, bunda harus berjuang antara hidup dan mati. Bunda sendirian tanpa teman. Saat itu bunda sempat berantem dengan dokter, karena dokter akan menunda kamu keluar. Sementara bunda sudah terbaring lemah di ruang bersalin. Namun, lagi-lagi dokter kalah dengan argumen wartawan (hehehehe...). Bunda berhasil pindah rumah sakit dan memutuskan untuk melahirkanmu melalui operasi caesar.
Ups...kala itu, bunda harus terbaring lumpuh selama 3 bulan. Maafkan bunda ya, kalau bunda tak bisa memberi kamu ASI eksklusif. bukan bunda nggak mau, tapi bunda nggak berdaya. Tergolek di tempat tidur. Ini harus bunda beritahu ke semua ibu yang akan maju ke meja operasi. Jangan memikirkan apa pun, masalah biaya, masalah rumah tangga atau masalah apapun.
Karena efek dari permasalahan yang kita pikirkan, membuat syaraf kita mati untuk beberapa saat. Bahasa dokternya sundrome paska operasi, dan akhirnya kita jadi lumpuh psikis. Saya bisa mengatakan ini karena saya mengalaminya sendiri. Begitu banyak masalah menghimpit saya ketika saya harus maju ke ruang operasi, dan tak seorang pun tahu apa yang saya rasakan. Saya tersenyum ketika masuk kamar bedah, ibu pun sempat meneteskan air mata, semua terdiam. Tapi saya tetap tersenyum. Untukmu jagoanku, nyawapun akan bunda berikan.
Setelah tersadar, saya tak mampu merasakan apa-apa. God! untung Allah masih sayang sehingga memberi kesempatan buat saya untuk menemani jagoan saya..
Kini saya bisa tersenyum dan selalu tersenyum, karena tangan mungil dia memegang saya. dan setiap saya merasa lemah, dia selalu menguatkan, bahkan tak jarang dia memeluk saya erat, dan mengatakan "Elang Sayang Bunda".***
Pada Tukang Becak Aku BErguru
by ien bunda elang
Mbah Sartun seorang tukang becak, berangkat dari rumah di Baledono subuh-subuh. Giat dan bersemangat. Anaknya ada lima, meninggal satu karena asma. Istrinya seorang pemijat yang cukup lihai. Setiap hari, mbah Sartun ikut ibu saya. Membantu menata duren dan menghitungnya. Beberapa hari ini dia ijin untuk tidak bekerja, ya..mbah Sartun terkena cikungunya.. (cepet sembuh mbah!).
Di pasar, saya dekat dengan para tukang becak. Dan tenaga-tenaga angkut barang. Maklum, sejak kecil saya hidup di tengah-tengah mereka. Maklum saja, ibu saya seorang pedagang. Banyak hal yang membuat saya kagum dari jiwa mereka. Tak peduli yang tua atau yang muda membuat saya sering tertegun.
Setiap tetes keringat mereka, berarti rejeki buat keluarganya. Pagi, menjelang subuh, pasar sudah ramai. Teman-teman saya itu belum tahu, apakah akan ada penumpang atau barang yang harus mereka hantar ke tempatnya. Jika ada, berarti mereka akan membawa pulang uang untuk keluarga. Jika tidak,...(semoga jangan..)
Setiap saat mereka selalu tertawa, bercanda, bersemangat..walau saya tahu dan mereka pun tahu, hari ini apa yang bisa mereka bawa pulang. Uangkah? atau hanya senyum lelah.
YAng membuat saya terharu dan sering merenung, mereka selalu bersemangat. Mengayuh becak, mengais rejeki walau belum tahu dikayuhan ke berapa mereka dapat rejeki. Pernah saya bertanya pada mbah Sartun, dan jawabannya membuat saya terhenyak. Hidup itu sekedar mampir ngombe, kita harus berpikiran positif, nyuwun sama yang Kuasa. Dan tetap nggenjot becak. Sekarang mbak lihat, tidak ada kan anak tukang becak yang kelaparan? tidak ada kan anak tukang becak yang tidak sekolah?
Saya mengangguk. Mbah Sartun benar. Benar sekali.
KAya dan miskin itu hanya ada di pikiran kita. Apa ada ukuran kaya dan miskin seseorang? Saya menggeleng. Mungkin kita merasa kaya ketika kita bisa mengendarai mobil BMW dan memiliki rumah 10, tapi ada juga yang belum merasa kaya ketika dia memiliki lebih dari itu. Sedangkan mbah Sartun merasa kaya saat dia pulang bisa membawa 10kg beras dan uang 50 ribu.
Waduhh...filosofi tingkat tinggi neh. Saya geleng-geleng kepala. Dan akhirnya pun saya kembali bertanya pada diri saya sendiri, sudahkah saya merasa kaya? Mbah Sartun tersenyum, sudahlah mbak, katanya. Kemudian dia berlalu untuk bergabung dengan tenaga angkut lainnya dan mulai bekerja membantu ibu saya. Menata duren.****
Mbah Sartun seorang tukang becak, berangkat dari rumah di Baledono subuh-subuh. Giat dan bersemangat. Anaknya ada lima, meninggal satu karena asma. Istrinya seorang pemijat yang cukup lihai. Setiap hari, mbah Sartun ikut ibu saya. Membantu menata duren dan menghitungnya. Beberapa hari ini dia ijin untuk tidak bekerja, ya..mbah Sartun terkena cikungunya.. (cepet sembuh mbah!).
Di pasar, saya dekat dengan para tukang becak. Dan tenaga-tenaga angkut barang. Maklum, sejak kecil saya hidup di tengah-tengah mereka. Maklum saja, ibu saya seorang pedagang. Banyak hal yang membuat saya kagum dari jiwa mereka. Tak peduli yang tua atau yang muda membuat saya sering tertegun.
Setiap tetes keringat mereka, berarti rejeki buat keluarganya. Pagi, menjelang subuh, pasar sudah ramai. Teman-teman saya itu belum tahu, apakah akan ada penumpang atau barang yang harus mereka hantar ke tempatnya. Jika ada, berarti mereka akan membawa pulang uang untuk keluarga. Jika tidak,...(semoga jangan..)
Setiap saat mereka selalu tertawa, bercanda, bersemangat..walau saya tahu dan mereka pun tahu, hari ini apa yang bisa mereka bawa pulang. Uangkah? atau hanya senyum lelah.
YAng membuat saya terharu dan sering merenung, mereka selalu bersemangat. Mengayuh becak, mengais rejeki walau belum tahu dikayuhan ke berapa mereka dapat rejeki. Pernah saya bertanya pada mbah Sartun, dan jawabannya membuat saya terhenyak. Hidup itu sekedar mampir ngombe, kita harus berpikiran positif, nyuwun sama yang Kuasa. Dan tetap nggenjot becak. Sekarang mbak lihat, tidak ada kan anak tukang becak yang kelaparan? tidak ada kan anak tukang becak yang tidak sekolah?
Saya mengangguk. Mbah Sartun benar. Benar sekali.
KAya dan miskin itu hanya ada di pikiran kita. Apa ada ukuran kaya dan miskin seseorang? Saya menggeleng. Mungkin kita merasa kaya ketika kita bisa mengendarai mobil BMW dan memiliki rumah 10, tapi ada juga yang belum merasa kaya ketika dia memiliki lebih dari itu. Sedangkan mbah Sartun merasa kaya saat dia pulang bisa membawa 10kg beras dan uang 50 ribu.
Waduhh...filosofi tingkat tinggi neh. Saya geleng-geleng kepala. Dan akhirnya pun saya kembali bertanya pada diri saya sendiri, sudahkah saya merasa kaya? Mbah Sartun tersenyum, sudahlah mbak, katanya. Kemudian dia berlalu untuk bergabung dengan tenaga angkut lainnya dan mulai bekerja membantu ibu saya. Menata duren.****
Presiden 2009
by ien bunda elang
Andai aku jadi presiden? hmm...mimpi kali yee...Nggak! saya tidak pernah bermimpi untuk menjadi presiden. Biarlah saya tetap menjadi rakyat jelata yang memiliki hak suara untuk memilih. Kalau boleh jujur, saya ingin presiden yang proletar. Bukan presiden yang borjuis.
Sebelum membicarakan mimpi (yang tidak jadi) saya untuk menjadi presiden, saya hanya ingin menggunakan hak jelata saya untuk mendiskripsikan presiden idaman. Superhero, jelas. Dia baik lelaki atau perempuan haruslah super dalam segala hal. Awalnya, presiden saya itu haruslah dari kalangan yang kuat. Kuat pendirian, kuat iman, juga kuat mental. Tidak harus dari kaum borjuis. Walau harus kita akui, kampanye membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Kalau dia kuat, dia tidak akan mudah tergoda akan nikmatnya kue kekuasaan. Sehingga tak akan ada tikus kantor berkeliaran di setneg. Hehehehehe... Berjiwa proletar.. biar bisa merasakan susahnya menjadi rakyat jelata, yang mungkin hanya setahun sekali mampu membeli baju baru, atau bahkan merasakan nikmatnya antri minyak tanah. Yang akhirnya gigit jari karena stok dikurangi.
Presiden saya juga dari anak petani. Saya menginginkan itu. Biar mengerti rasanya berkubang lumpur, membajak, tandur dan indahnya bergandengan tangan untuk menunggu pupuk. Yah...dari kuota yang diajukan mungkin pupuknya tinggal setengah..nikmat...
Presiden saya juga bukan dari kalangan pedagang, yang memandang semua dari sisi ekonomis. Hasil sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya. Waduhhh...runyam juga hukum saya kalau memiliki presiden seperti itu.
Puyeng kepala saya kalau harus mendiskripsikan presiden saya. Yang pasti, rasa empati yang tinggi, dapat menjadi modal buat melangkah ke istana. Empati melihat saudara-saudara saya (saya juga) yang kelaparan, yang buta huruf, yang sekolahnya roboh, yang tak bisa melihat indahnya lampu-lampu hias di perkotaan, dan banyak yang....
Bumi saya sudah terlanjur sakit, saya tahu, siapapun presiden saya nanti, pekerjaannya ringan. Dan saya yakin, butuh waktu lebih dari 20 tahun untuk kita betul-betul bangkit. Itupun kalau presiden kita bisa bertahan hingga 4 periode. Apa mungkin?
Saya sedih, karena kita tidak juga bangkit dari keterpurukan. Karena apa? Setiap pemilu presidennya ganti, artinya tiap 5 tahun kebijakan berganti, padahal kebijakan yang kemarin saja belum jalan. Ya..jadi 5 tahun bukanlah tahun untuk membangun, melainkan tahun membuat program. Huhuhuhuhu....jadi bagaimana ini?
Mari kita menangis bersama, dan kita mencalonkan diri menjadi presiden di rumah kita masing-masing.****
Andai aku jadi presiden? hmm...mimpi kali yee...Nggak! saya tidak pernah bermimpi untuk menjadi presiden. Biarlah saya tetap menjadi rakyat jelata yang memiliki hak suara untuk memilih. Kalau boleh jujur, saya ingin presiden yang proletar. Bukan presiden yang borjuis.
Sebelum membicarakan mimpi (yang tidak jadi) saya untuk menjadi presiden, saya hanya ingin menggunakan hak jelata saya untuk mendiskripsikan presiden idaman. Superhero, jelas. Dia baik lelaki atau perempuan haruslah super dalam segala hal. Awalnya, presiden saya itu haruslah dari kalangan yang kuat. Kuat pendirian, kuat iman, juga kuat mental. Tidak harus dari kaum borjuis. Walau harus kita akui, kampanye membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Kalau dia kuat, dia tidak akan mudah tergoda akan nikmatnya kue kekuasaan. Sehingga tak akan ada tikus kantor berkeliaran di setneg. Hehehehehe... Berjiwa proletar.. biar bisa merasakan susahnya menjadi rakyat jelata, yang mungkin hanya setahun sekali mampu membeli baju baru, atau bahkan merasakan nikmatnya antri minyak tanah. Yang akhirnya gigit jari karena stok dikurangi.
Presiden saya juga dari anak petani. Saya menginginkan itu. Biar mengerti rasanya berkubang lumpur, membajak, tandur dan indahnya bergandengan tangan untuk menunggu pupuk. Yah...dari kuota yang diajukan mungkin pupuknya tinggal setengah..nikmat...
Presiden saya juga bukan dari kalangan pedagang, yang memandang semua dari sisi ekonomis. Hasil sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya. Waduhhh...runyam juga hukum saya kalau memiliki presiden seperti itu.
Puyeng kepala saya kalau harus mendiskripsikan presiden saya. Yang pasti, rasa empati yang tinggi, dapat menjadi modal buat melangkah ke istana. Empati melihat saudara-saudara saya (saya juga) yang kelaparan, yang buta huruf, yang sekolahnya roboh, yang tak bisa melihat indahnya lampu-lampu hias di perkotaan, dan banyak yang....
Bumi saya sudah terlanjur sakit, saya tahu, siapapun presiden saya nanti, pekerjaannya ringan. Dan saya yakin, butuh waktu lebih dari 20 tahun untuk kita betul-betul bangkit. Itupun kalau presiden kita bisa bertahan hingga 4 periode. Apa mungkin?
Saya sedih, karena kita tidak juga bangkit dari keterpurukan. Karena apa? Setiap pemilu presidennya ganti, artinya tiap 5 tahun kebijakan berganti, padahal kebijakan yang kemarin saja belum jalan. Ya..jadi 5 tahun bukanlah tahun untuk membangun, melainkan tahun membuat program. Huhuhuhuhu....jadi bagaimana ini?
Mari kita menangis bersama, dan kita mencalonkan diri menjadi presiden di rumah kita masing-masing.****
Jumat, 30 Januari 2009
Single Fighter
by ien bunda elang
Be a single, don't be afraid...or single and single again...Jangan pernah merasa takut untuk salah. Saya juga tidak. Karena dengan menjadi salah, saya akan mengerti sebuah kebenaran. Kelahiran bukanlah sebuah kesalahan, semestinya itu menjadi anugerah. Yang membuat banyak bayi mungil dibuang dan terlantar adalah perasaan manusia. Perasaan bersalah, perasaan berdosa, dan yang pasti ketidakmampuan.
Bukan salah Allah yang memberi anugerah jabang bayi di rahim seorang wanita. Allah tidak akan mempertimbangkan apapun seperti pemikiran manusia. Only Kun and than Fayakun. Ada teman yang dulu tinggal di RUmah Singga Elsapa di Lampung. Berseberangan dengan rumah sahabat saya. Bocah-bocah itu memiliki senyum yang sangat indah. POlos dan manis.
Pernah saya bertanya pada mereka, kelak ingin jadi apa. Jawaban lugu meluncur mulus dari mulut mereka, saya ingin jadi dokter, saya ingin jadi polisi, dan ada satu anak yang ingin sekali menjadi ibu.
Deg! batin saya terpukul. Mereka begitu merindukan sosok ibu. Sahabat yang mengasuh rumah singgah pun tersenyum kelu. Saya kini seorang ibu, ingin sekali rasanya menemani mereka. Walau hanya sekadar dekapan malam untuk pengantar tidurnya. Saya menegrti mereka sendiri, pejuang-pejuang tangguh yang keras dalam menjalani kehidupannya. Jika mereka dibiarkan tanpa kasih sayang ibu, apa jadinya?
Siapa yang akan mengajarkan mereka pelukan hangat? senyum ketulusan? atau bahkan menenangkan mereka tatkala sedang gundah? Wajar jika akhirnya mereka menjadi pribadi yang apatis dengan kehidupan ini. BUkan pilihan mereka untuk menjadi seperti itu. Saya tersedu.
Jangan memandang rendah mereka, karena mereka anak-anak lingkungan. Yang terpinggirkan oleh keadaan. God, help them...
Kemarilah anak-anakku..biarkanlah bunda mendekapmu walau bunda tahu, tak banyak yang bisa bunda lakukan untuk menolongmu. Bunda hanya ingin mengenalkanmu akan pelukan hangat serta kenyamanan di dalamnya. ***
Be a single, don't be afraid...or single and single again...Jangan pernah merasa takut untuk salah. Saya juga tidak. Karena dengan menjadi salah, saya akan mengerti sebuah kebenaran. Kelahiran bukanlah sebuah kesalahan, semestinya itu menjadi anugerah. Yang membuat banyak bayi mungil dibuang dan terlantar adalah perasaan manusia. Perasaan bersalah, perasaan berdosa, dan yang pasti ketidakmampuan.
Bukan salah Allah yang memberi anugerah jabang bayi di rahim seorang wanita. Allah tidak akan mempertimbangkan apapun seperti pemikiran manusia. Only Kun and than Fayakun. Ada teman yang dulu tinggal di RUmah Singga Elsapa di Lampung. Berseberangan dengan rumah sahabat saya. Bocah-bocah itu memiliki senyum yang sangat indah. POlos dan manis.
Pernah saya bertanya pada mereka, kelak ingin jadi apa. Jawaban lugu meluncur mulus dari mulut mereka, saya ingin jadi dokter, saya ingin jadi polisi, dan ada satu anak yang ingin sekali menjadi ibu.
Deg! batin saya terpukul. Mereka begitu merindukan sosok ibu. Sahabat yang mengasuh rumah singgah pun tersenyum kelu. Saya kini seorang ibu, ingin sekali rasanya menemani mereka. Walau hanya sekadar dekapan malam untuk pengantar tidurnya. Saya menegrti mereka sendiri, pejuang-pejuang tangguh yang keras dalam menjalani kehidupannya. Jika mereka dibiarkan tanpa kasih sayang ibu, apa jadinya?
Siapa yang akan mengajarkan mereka pelukan hangat? senyum ketulusan? atau bahkan menenangkan mereka tatkala sedang gundah? Wajar jika akhirnya mereka menjadi pribadi yang apatis dengan kehidupan ini. BUkan pilihan mereka untuk menjadi seperti itu. Saya tersedu.
Jangan memandang rendah mereka, karena mereka anak-anak lingkungan. Yang terpinggirkan oleh keadaan. God, help them...
Kemarilah anak-anakku..biarkanlah bunda mendekapmu walau bunda tahu, tak banyak yang bisa bunda lakukan untuk menolongmu. Bunda hanya ingin mengenalkanmu akan pelukan hangat serta kenyamanan di dalamnya. ***
Cinta = Pengabdian
by ien bunda elang
Buat saya, mencintai adalah mengabdi. Memberikan seluruh jiwa dan raga kepada yang saya cintai. Kata-katanya adalah titah buat saya, dia menjadi raja di segala denyut nafas saya. Tidak ada kata tidak, yang ada hanyalah kata sendika dawuh.
Namun buat saya, cinta juga pengabdian yang tak terbatas. Dengan prasyarat, saya merasa terayomi dan nyaman di bawah titahnya. Saya merasa dimiliki dan dicintai dengan sepenuh jiwa raja saya. Persahabatan juga pengabdian, atas nama sayang kita bersahabat. Yang berada di jalur kita adalah perasaan sama-sama ingin memberikan jalan yang terbaik. Persahabatan bagai kepompong, saya tidak setuju dengan itu.
Persahabatan adalah pemberian. Tidak ada take yang ada hanya give. Janganlah menuntut apapun untuk segala yang kita beri pada sahabat. Tidak juga waktu atau pun pikiran. Jadi siapa yang mau jadi kepompong, terbalut, terbelenggu. Dan pada akhirnya menjadi kupu-kupu...indah terlihat tetapi kemudian terbang bersama angin mencari bunga yang lain. Makanya, saya tidak mau jadi kupu-kupu.
Seandainya semua sahabat berpikiran sama seperti saya, hmm alangkah indahnya. No take..just give..there are give without loving, but there are never love without giving...apaan tuh?? entahlah..ya..cinta sama dengan pengabdian.
Untukmu wahai pemilik cinta, janganlah takut untuk mengabdi pada rasa. Asal jangan mendewakan cinta. Yepp..love means everything..kalau......*** (only you know the less of the word..)
Buat saya, mencintai adalah mengabdi. Memberikan seluruh jiwa dan raga kepada yang saya cintai. Kata-katanya adalah titah buat saya, dia menjadi raja di segala denyut nafas saya. Tidak ada kata tidak, yang ada hanyalah kata sendika dawuh.
Namun buat saya, cinta juga pengabdian yang tak terbatas. Dengan prasyarat, saya merasa terayomi dan nyaman di bawah titahnya. Saya merasa dimiliki dan dicintai dengan sepenuh jiwa raja saya. Persahabatan juga pengabdian, atas nama sayang kita bersahabat. Yang berada di jalur kita adalah perasaan sama-sama ingin memberikan jalan yang terbaik. Persahabatan bagai kepompong, saya tidak setuju dengan itu.
Persahabatan adalah pemberian. Tidak ada take yang ada hanya give. Janganlah menuntut apapun untuk segala yang kita beri pada sahabat. Tidak juga waktu atau pun pikiran. Jadi siapa yang mau jadi kepompong, terbalut, terbelenggu. Dan pada akhirnya menjadi kupu-kupu...indah terlihat tetapi kemudian terbang bersama angin mencari bunga yang lain. Makanya, saya tidak mau jadi kupu-kupu.
Seandainya semua sahabat berpikiran sama seperti saya, hmm alangkah indahnya. No take..just give..there are give without loving, but there are never love without giving...apaan tuh?? entahlah..ya..cinta sama dengan pengabdian.
Untukmu wahai pemilik cinta, janganlah takut untuk mengabdi pada rasa. Asal jangan mendewakan cinta. Yepp..love means everything..kalau......*** (only you know the less of the word..)
"Jealous"
by ien bunda elang
.....Ingin kubunuh pacarmu, saat dia cium bibir merahmu di depan teman-temanku..hatiku terbakar cantik, aku cemburu...meskipun aku pacar rahasiamu, meski pun aku selalu yang kedua, tapi aku manusia yang mudah sakit hatinya.....Sekarang senandungku berubah menjadi Baladewa.
Jealous! Fine-fine aja tuh. Sepanjang itu dilandasi perasaan sayang dan cinta. Bukan karena curiga atau membabi buta. Setiap pasangan pasti pernah merasakan kue cemburu. Jargon kalau tak cemburu berarti tak cinta, mungkin itu benar. But...somany but...
Kalau cemburu berlebihan dan berada dekat dengan garis posesif, wedew...tobat..tobat..ampun deh. Itu persaan yang gak sehat lagi. Bikin kita makan hati. (enakan juga makan hati ayam..). Jadilah muncul pertanyaan kamu dimana? sedang apa? sama siapa?
Huhuhuhuhuuu...robek hatiku mengingat iklan itu.
Lebih enak kita membiarkan. Membebaskan dan memerdekakan. Karena hakekatnya sebuah hubungan itu dibangun berdasarkan pondasi kepercayaan. Dibumbui sayang dan banyak pelukan. Biarkan semua pikiran terbang melayang tanpa dikebiri, seperti udara. Segar..iya saya mengerti, kebebasan yang bertanggung jawab. Setiap kepala di dunia ini tidaklah sama isinya, terkadang kita menilai seseorang dari penampakan luarnya saja. Cashing-nya. Tanpa peduli apa isinya. Cinta..cinta adalah hak setiap orang, dan tak seorang pun boleh menggarisi batas-batas cinta. Hanya Yang Khalik sajalah sumber dari segala sumber cinta.
Saya boleh mencintai Suharto, atau pun SUkarno, atau bahkan si ganteng Alessandro del piero. Boleh sekali..saya harap tak seorangpun melarang saya. Tidak ada istilah cinta terlarang. Yang menjadi salah adalah ketika cinta saya itu didiikuti rasa ingin memiliki. Sehingga itu akan mengganggu stabilitas kapal orang...
Saya bukan secret admirer..dan saya tak punya secret admirer..saya hanyalah seorang istri, bunda, sekaligus sahabat yang tengah mencari kesejatian cinta. kebahagiaan hakiki dan pada akhirnya saya hanya ingin sekali berarti, sesudah itu mati.***
.....Ingin kubunuh pacarmu, saat dia cium bibir merahmu di depan teman-temanku..hatiku terbakar cantik, aku cemburu...meskipun aku pacar rahasiamu, meski pun aku selalu yang kedua, tapi aku manusia yang mudah sakit hatinya.....Sekarang senandungku berubah menjadi Baladewa.
Jealous! Fine-fine aja tuh. Sepanjang itu dilandasi perasaan sayang dan cinta. Bukan karena curiga atau membabi buta. Setiap pasangan pasti pernah merasakan kue cemburu. Jargon kalau tak cemburu berarti tak cinta, mungkin itu benar. But...somany but...
Kalau cemburu berlebihan dan berada dekat dengan garis posesif, wedew...tobat..tobat..ampun deh. Itu persaan yang gak sehat lagi. Bikin kita makan hati. (enakan juga makan hati ayam..). Jadilah muncul pertanyaan kamu dimana? sedang apa? sama siapa?
Huhuhuhuhuuu...robek hatiku mengingat iklan itu.
Lebih enak kita membiarkan. Membebaskan dan memerdekakan. Karena hakekatnya sebuah hubungan itu dibangun berdasarkan pondasi kepercayaan. Dibumbui sayang dan banyak pelukan. Biarkan semua pikiran terbang melayang tanpa dikebiri, seperti udara. Segar..iya saya mengerti, kebebasan yang bertanggung jawab. Setiap kepala di dunia ini tidaklah sama isinya, terkadang kita menilai seseorang dari penampakan luarnya saja. Cashing-nya. Tanpa peduli apa isinya. Cinta..cinta adalah hak setiap orang, dan tak seorang pun boleh menggarisi batas-batas cinta. Hanya Yang Khalik sajalah sumber dari segala sumber cinta.
Saya boleh mencintai Suharto, atau pun SUkarno, atau bahkan si ganteng Alessandro del piero. Boleh sekali..saya harap tak seorangpun melarang saya. Tidak ada istilah cinta terlarang. Yang menjadi salah adalah ketika cinta saya itu didiikuti rasa ingin memiliki. Sehingga itu akan mengganggu stabilitas kapal orang...
Saya bukan secret admirer..dan saya tak punya secret admirer..saya hanyalah seorang istri, bunda, sekaligus sahabat yang tengah mencari kesejatian cinta. kebahagiaan hakiki dan pada akhirnya saya hanya ingin sekali berarti, sesudah itu mati.***
Langganan:
Postingan (Atom)
