by ien bunda elang
Andai aku jadi presiden? hmm...mimpi kali yee...Nggak! saya tidak pernah bermimpi untuk menjadi presiden. Biarlah saya tetap menjadi rakyat jelata yang memiliki hak suara untuk memilih. Kalau boleh jujur, saya ingin presiden yang proletar. Bukan presiden yang borjuis.
Sebelum membicarakan mimpi (yang tidak jadi) saya untuk menjadi presiden, saya hanya ingin menggunakan hak jelata saya untuk mendiskripsikan presiden idaman. Superhero, jelas. Dia baik lelaki atau perempuan haruslah super dalam segala hal. Awalnya, presiden saya itu haruslah dari kalangan yang kuat. Kuat pendirian, kuat iman, juga kuat mental. Tidak harus dari kaum borjuis. Walau harus kita akui, kampanye membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Kalau dia kuat, dia tidak akan mudah tergoda akan nikmatnya kue kekuasaan. Sehingga tak akan ada tikus kantor berkeliaran di setneg. Hehehehehe... Berjiwa proletar.. biar bisa merasakan susahnya menjadi rakyat jelata, yang mungkin hanya setahun sekali mampu membeli baju baru, atau bahkan merasakan nikmatnya antri minyak tanah. Yang akhirnya gigit jari karena stok dikurangi.
Presiden saya juga dari anak petani. Saya menginginkan itu. Biar mengerti rasanya berkubang lumpur, membajak, tandur dan indahnya bergandengan tangan untuk menunggu pupuk. Yah...dari kuota yang diajukan mungkin pupuknya tinggal setengah..nikmat...
Presiden saya juga bukan dari kalangan pedagang, yang memandang semua dari sisi ekonomis. Hasil sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya. Waduhhh...runyam juga hukum saya kalau memiliki presiden seperti itu.
Puyeng kepala saya kalau harus mendiskripsikan presiden saya. Yang pasti, rasa empati yang tinggi, dapat menjadi modal buat melangkah ke istana. Empati melihat saudara-saudara saya (saya juga) yang kelaparan, yang buta huruf, yang sekolahnya roboh, yang tak bisa melihat indahnya lampu-lampu hias di perkotaan, dan banyak yang....
Bumi saya sudah terlanjur sakit, saya tahu, siapapun presiden saya nanti, pekerjaannya ringan. Dan saya yakin, butuh waktu lebih dari 20 tahun untuk kita betul-betul bangkit. Itupun kalau presiden kita bisa bertahan hingga 4 periode. Apa mungkin?
Saya sedih, karena kita tidak juga bangkit dari keterpurukan. Karena apa? Setiap pemilu presidennya ganti, artinya tiap 5 tahun kebijakan berganti, padahal kebijakan yang kemarin saja belum jalan. Ya..jadi 5 tahun bukanlah tahun untuk membangun, melainkan tahun membuat program. Huhuhuhuhu....jadi bagaimana ini?
Mari kita menangis bersama, dan kita mencalonkan diri menjadi presiden di rumah kita masing-masing.****
Tampilkan postingan dengan label "Met hari ibu". Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label "Met hari ibu". Tampilkan semua postingan
Sabtu, 31 Januari 2009
Senin, 22 Desember 2008
Be a Mother
by ien bunda elang
Saya merasa bebas dan merdeka, ketika saya memutuskan untuk menjadi seorang ibu. Dan saya merasa sangat beruntung karena keinginan saya menjadi ibu terwujud. Walau melalui proses yang panjang dan menyakitkan buat saya, at last..dengan bangga saya menyandang gelar Bunda.
Ketika masa muda dulu, saya menginginkan untuk menjadi wanita karier. Yang bekerja di kantor dan memiliki relasi di mana saja. Tak terpikirkan oleh saya untuk turu ke dapur. Bahkan orang tua saya yang seorang wiraswasta tak pernah sekalipun mengenalkan perangkat dapur ke saya.
Apalagi didukung saya satu-satunya anak perempuan di keluarga saya. Hmm.lengkap sudah lingkungan membuat saya menjadi tomboy.
Ujung-ujungnya, saya tidak pernah melirik pekerjaan apa pun yang berbau perempuan. Bahkan dengan jahatnya saya terkadang membuat repot si mbak yang momong saya. dari ingin makan masakan A, atau setrika baju kurang rapi. Dan malam sebelum tidur harus dipijitin, hehehehe..saya menjadi tidak menghargai pekerjaan-pekerjaan si mbak.
Kini, ketika saya menjadi seorang ibu, saya terperangah. Begitu berat ternyata menjadi ibu. Pagi, saya harus bangun dan menyiapkan segala keperluan jagoan kami (walau masih saja saya tidak bisa memasak), membangunkan suami dengan segelas kopi dan sebuah kecupan, dan melihat dua pria dalam hidup saya berangkat menunaikan tugas masing-masing.
Belum lagi masalah cucian, seterikaan, menata ruangan dan segala rutinitas yang selalu berulang tiap harinya. Tidak ada kebosanan. Saya juga heran..dan saya jadi merasa bersalah ketika teringat perlakuan saya pada si mbak dulu.
Mungkin sebagian wanita beranggapan, menjadi ibu rumah tangga adalah hal yang tidak sepadan dengan emansipasi wanita. Buat saya, karier yang paling memiliki prestise buat seorang wanita adalah menjadi ibu rumah tangga.
Dari pagi hingga matahari terbenam dan muncul lagi, pekerjaan seorang ibu tidaklah berhenti. Terkadang terasa berat, tetapi saya mencoba melakukan yang terbaik. Dan saya tetap sadar, saya belum bisa memasak..huhuhuhuhu....
Ibu..alangkah beruntungnya wanita yang bisa mendapatkan gelar itu. Satu teman hingga saat ini merindukan untuk dipanggil ibu. Namun dia tetap belum mampu. Berbahagialah saya..
Teringat saat saya memasuki ruang operasi ketika hendak melahirkan jagoan saya, ibu--wanita perkasa buat saya--membisikan satu kata "jangan menangis".
Saya tak pernah menangis, bahkan saya tersenyum. Walau sakit yang mendera begitu hebat. Inikah harga yang harus dibayarkan untuk menjadi seorang ibu?
Dan saya merasakan itu, tanpa tangis dan air mata..saya rasa perjuangan ibu kala itu tak terbayar dengan apa pun di dunia ini.
TErima kasih ibu dan untuk kaum ibu, karena sudah melahirkan saya dan anak-anak yang memberi warna pada dunia. Dan saya bangga menjadi seorang ibu***
Saya merasa bebas dan merdeka, ketika saya memutuskan untuk menjadi seorang ibu. Dan saya merasa sangat beruntung karena keinginan saya menjadi ibu terwujud. Walau melalui proses yang panjang dan menyakitkan buat saya, at last..dengan bangga saya menyandang gelar Bunda.
Ketika masa muda dulu, saya menginginkan untuk menjadi wanita karier. Yang bekerja di kantor dan memiliki relasi di mana saja. Tak terpikirkan oleh saya untuk turu ke dapur. Bahkan orang tua saya yang seorang wiraswasta tak pernah sekalipun mengenalkan perangkat dapur ke saya.
Apalagi didukung saya satu-satunya anak perempuan di keluarga saya. Hmm.lengkap sudah lingkungan membuat saya menjadi tomboy.
Ujung-ujungnya, saya tidak pernah melirik pekerjaan apa pun yang berbau perempuan. Bahkan dengan jahatnya saya terkadang membuat repot si mbak yang momong saya. dari ingin makan masakan A, atau setrika baju kurang rapi. Dan malam sebelum tidur harus dipijitin, hehehehe..saya menjadi tidak menghargai pekerjaan-pekerjaan si mbak.
Kini, ketika saya menjadi seorang ibu, saya terperangah. Begitu berat ternyata menjadi ibu. Pagi, saya harus bangun dan menyiapkan segala keperluan jagoan kami (walau masih saja saya tidak bisa memasak), membangunkan suami dengan segelas kopi dan sebuah kecupan, dan melihat dua pria dalam hidup saya berangkat menunaikan tugas masing-masing.
Belum lagi masalah cucian, seterikaan, menata ruangan dan segala rutinitas yang selalu berulang tiap harinya. Tidak ada kebosanan. Saya juga heran..dan saya jadi merasa bersalah ketika teringat perlakuan saya pada si mbak dulu.
Mungkin sebagian wanita beranggapan, menjadi ibu rumah tangga adalah hal yang tidak sepadan dengan emansipasi wanita. Buat saya, karier yang paling memiliki prestise buat seorang wanita adalah menjadi ibu rumah tangga.
Dari pagi hingga matahari terbenam dan muncul lagi, pekerjaan seorang ibu tidaklah berhenti. Terkadang terasa berat, tetapi saya mencoba melakukan yang terbaik. Dan saya tetap sadar, saya belum bisa memasak..huhuhuhuhu....
Ibu..alangkah beruntungnya wanita yang bisa mendapatkan gelar itu. Satu teman hingga saat ini merindukan untuk dipanggil ibu. Namun dia tetap belum mampu. Berbahagialah saya..
Teringat saat saya memasuki ruang operasi ketika hendak melahirkan jagoan saya, ibu--wanita perkasa buat saya--membisikan satu kata "jangan menangis".
Saya tak pernah menangis, bahkan saya tersenyum. Walau sakit yang mendera begitu hebat. Inikah harga yang harus dibayarkan untuk menjadi seorang ibu?
Dan saya merasakan itu, tanpa tangis dan air mata..saya rasa perjuangan ibu kala itu tak terbayar dengan apa pun di dunia ini.
TErima kasih ibu dan untuk kaum ibu, karena sudah melahirkan saya dan anak-anak yang memberi warna pada dunia. Dan saya bangga menjadi seorang ibu***
Langganan:
Postingan (Atom)
