Selasa, 27 Januari 2009

Lagu Rindu

by ien bunda elang

Senandung lirih mulai terdengar dari arah selatan. Ringan, sayup terbawa angin. Awan cumulus nimbus melingkari selatan. Sebentar lagi biasanya turun hujan, jangan banjir! nanti anak-anak kesusahan mencari sepiring nasi.

Senyap, tak terdengar lagi...makin lirih dan lirih..drrrr...handphone saya bergetar pelan menggantikan senandung itu. "Kangen gak"..hmm..kangen gak ya? entah..hahahahaha..rasa ingin bertemu menjadi kunci dari setiap perpisahan. semenit, sehari, sebulan atau bahkan setahun..hanya bertemulah obatnya.

Saya tersipu..dari dulu saya paling susah untuk mengucapkan kata kangen, atau rindu atau bahkan i love u. Hmm..deheman pendek. "Kangen gak". Entah...

Saya rindu untuk merasakan kembali nafas di rahim saya, saya rindu untuk menggendong bocah bertangan mungil menggenggam tangan saya.."Sabar" yupp..saya bersabar..kamu juga bersabar kan?

Sayup..kidung rindu menggema..menembus ruang garba batin saya**

Super Hero


by ien bunda elang

Look at the face...sedih banget ya? itu ekspresi jagoan saya ketika terserang cacar tiga bulan lalu. Badannya mendadak habis, jadi kurus dan tirus.

Tenang my super hero..kamu pasti bisa melalui semua itu. Seperti juga dengan teman-teman seiman di Palestina. Mereka pasti bisa melalui semua ujian.

Genjatan senjata? Semestinya tak ada ruang tuk negosiasi. KArena jika negosiasi terjadi, itu penindasan buat saudara saya. Siapa yang ekspanasi? siapa yang dzolim? tidak ada kata genjatan senjata. YAng ada, lawan, lawan dan lawan.

Sayang, seperti juga penyakitmu..lawan. Israel seperti cacarmu. Tak bisa dimusnahkan, hanya bisa dikarantina virusnya.

Ini saatnya untuk berubah menjadi super hero..tet..tet..tet...mau jadi superman atau batman, terserah pilihanmu. yang pasti, Palestina tidak ada pilihan sepertimu. Berdoalah untuk kesehatanmu, berdoalah untuk perjuangan. let us pray...

Sayang, sekarang tidak ada adik lagi..kamu minta dipanggil "mas". Dan BUnda gak boleh salah. Siap, Bos! Seharusnya seperti itu dengan negara-negara besar, tidak boleh salah. Tapi semua human being. Punya salah dan lupa. Saya juga salah.

Satu, dua, tiga, empat...Jagoan saya menghitung cacarnya. Dan dia tetap tersenyum...ya..tersenyumlah PAlestina***

Minggu, 25 Januari 2009

BUmi Menangis

by ien bunda elang

Hujan semalam tidak berhenti, have a nice new lunar day...met sincia to seluruh saudara saya yang merayakannya..Semoga di tahun ini keberkahan dan kesehatan selalu melingkupi kita semua. Amin.

Seiring tangisan bumi, saya pun dini hari tadi menangis. Setelah penantian detik demi detik, hari demi hari, siklus saya datang. Dan saya menangis tergugu. Maafkan saya sayang. Kita belum dipercaya untuk memberi teman buat jagoan kita.

Sulit dipercaya, tetapi saya harus menerima kenyataan ini. Seperti saya harus menerima apa yang terjadi di Indonesia. Ketidakmampuan saya untuk merubahnya membuat tangis saya makin keras. Dan kami berpelukan menangisi apa yang terjadi. Semoga seluruh rakyat negeri ini juga bergandengan tangan menangisi apa yang terjadi dengan kesakitan pertiwi, dan bukan malah saling mencari kambing yang di padang berwarna hitam.

Ya Allah....berilah kami kesempatan. Ya, kesmepatan ya Allah. Mungkin terlalu banyak yang sudah kami minta.

Hujan bertambah deras dan belum ada tanda-tanda mereda. Bantal saya pun sudah basah dengan hujan lokal yang saya buat. Kepala saya kian dalam meringkuk di pelukanmu, sayang.****

Me, past, and now

by ien bunda elang

Saat kemarin adalah milik kemarin, dan sekarang adalah realita. Itu mungkin yang ingin saya ungkapkan di blog ini. Ya, sejarah memang akan selalu melekat di setiap jiwa yang bernafas. Dan sejarah tidak akan pernah menghilang begitu saja, beberapa teman yang bijak selalu mengingatkan saya untuk tidak melupakan sejarah.

Namun, satu hal yang pasti. Sejarah adalah sejarah. Dan tidak pada tempatnya jika kita membawa sejarah pada kehidupan kita saat ini. Begitu juga dengan sejarah dunia saya. Sejarah Purworejo, atau pun sejarah Indonesia.

Untuk maju, kita bisa menggunakan sejarah sebagai cermin. Tapi bukan sebagai panutan. Move and move..jangan berhenti dan hanya berkutat di sejarah. Entah itu sejarah pahit atau pun manis.
Seperti kemarin, seorang sahabat tiba-tiba muncul di kehidupan kami. Sayangku, itu juga bagian dari sejarah. Dan kini mungkin seseorang yang pernah menjadi bagian dari nafas saya juga muncul. Saya mengerti mimik itu, kata memang hanya lisan. Tetapi mata itu terluka. MAafkan saya.

Dia itu sejarah bagi saya, tapi satu hal yang harus engkau pahami wahai pemilik hati ini. Dia tidak akan pernah menjadi sejarah buat jagoan kita. Darahnya ada di darah jagoan kita. Saya mencintai apa yang kita punya sekarang. Dan bukan sejarah yang saya cintai. Biarkanlah angin kemarin berhembus semau yang angin mau. Tapi sekarang genggam tangan saya untuk mengukir sejarah kita bersama.

Me, past dan now...inilah sejarah saya, my koibito....

Selasa, 20 Januari 2009

Punten

by ien bunda elang

Maafkan saya!










Atas ketidakberdayaan saya










Ketakmampuan saya








Yang membiarkan semua berlalu
terjadi



maaf....

Kamis, 08 Januari 2009

Untuk Israel

by bunda elang

Hujan di kotaku tambah deras, hampir tiap hari hujan dan hujan. Seperti halnya militan Israel yang setiap detik dan menit selalu menghujani saudara-saudaraku dengan roket. Belum lagi bombardir peluru di sepanjang jalur Gaza.
Sungguh tak elok melihat pemandangan itu di televisi kecil kami. Miris hati ini, melihat anak-anak terenggut masa depannya, belum lagi saudari-saudariku yang menjadi janda dan kehilangan buah hati mereka. Duhai bangsa yang tak memiliki rasa kemanusiaan, berhentilah barang sejenak. Jika engkau tak segera tersadar, aku, kami dan seluruh saudaraku dalam Islam pasti akan saling bergandeng tangan. Jika bukan senjata yang kami sandang, pasti doa akan kami tebar.

Ya Rabb, angkatlah jiwa-jiwa tak berdosa itu untuk hidup abadi dalam lingkaran jihad, biarkanlah anak-anak yang terenggut itu menghiasi padang keabadian yang Engkau Janjikan. Dan untukmu Israel, dunia ini hanyalah tempat singgah sejenak. Masih ada pembalasan yang beratus-ratus kali dari pembalasan manusi.

Bunga yang kalian tanam mungkin sudah layu, tembok rumah kalian mungkin juga sudah ambruk. Tapi tidak dengan doa-doa kami. Gapailah tangan-tangan ini untuk memperkuat iman dan semangatmu wahai perempuan-perempuan Palestina. Singsingkan lenganmu untuk angkat senjata dan berjihad bersama suami-suamimu. Biarkanlah Allah membimbing jalan kalian menuju jihad yang kekal.

Amerika, PBB, mungkin tak bisa berkutik. Mereka dalam dilema. Hmm...saudaraku, satu hal sederhana yang bisa aku lakukan, mendoakanmu. Berharap hujan itu segera reda, dan mentari menyapamu. Atau Surga menjadi balasan bagi kehilanganmu. Sesungguhnya jika Allah sudah Kun pasti Fayakun..***

Jumat, 02 Januari 2009

Terompet

by ien bunda elang

toet..toet..toet....semua orang di 00.00 wib serempak meniupmu. Bibir bergincu, bibir menghitam gara-gara rokok, atau bibir kanak-kanak, semua bertemu dengan bibirmu. Namun tidak bibir-bibir kami.

Bibir kami terbungkam tak mengenal bibirmu, maaf kalau kami begitu. Bukan tak mau, tapi kami tak ingin menciummu hanya untuk menandakan bahwa sebuah masa berganti dengan masa yang baru. Hmm entahlah..

Lebih menyenangkan jika bibir ini mencium hal-hal berbau gurih..atau asem, (renyah juga gak masalah). Dan mungkin bibir bau kopi yang baru saja saya rasakan. Karena saat ini, bibir-bibir kami manyun. Karena tak semestinya dia tersenyum. Lihat, di belahan bumi sana..ada banyak saudara yang tengah meratapi keambrukan rumahnya, kehilangan kakinya, atau mungkin nyawanya.

Belasan peluru berdesing menjadi irama jazz tak bertuan, wahai saudaraku bertahanlah di ujianmu. Jika mengingat itu, akankah bibir ini menciummu?

Pergantian tahun, dimana seluruh masyarakat merayakannya dengan petasan, kembang api, terompet dan banyak tawa, sementara saudara bibir kami merayakannya dengan magasin, rudal, dan desingan peluru tajam di sekelilingnya. Sungguh, hati ini berdarah mendengar bumi Palestina menangis.

Hati, jiwa dan nafas ini menderu..sungguh kesakitanmu melubangi jantung ini. Akankah kami tetap bisa tertawa jika mengenang penderitaan Palestina?
Akankah terompet itu kami tiup kalau ratapan anak-anak Palestina mengiringi pergantian tahun? Wahai pemilik jiwa-jiwa..ringankanlah darah mereka.

Kekuatan bukanlah lawan dari jiwa tenang yang menginginkan kedamaian, rudal dan mesiu bukanlah jawaban. Kami dengar kesakitanmu kawan.Kami paham dukamu teman. Nun jauh di sini, kami berdoa tanpa terompet di bibir kami. Semoga Trophy jihad tersanding di sebelah perjuanganmu**